Beranda > Cerpen, M.D. Atmaja > Byar-Pet

Byar-Pet

Byar-Pet

Oleh: M.D. Atmaja

Kumandang Isya selesai melantun di dalam udara malam. Dalam hituangan beberapa menit, sunah tarawih juga telah selesai. Kangmas Gothak bersama dengan adiknya, Dhimas Gathuk beriringan pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kegelapan mengurung keduanya. Lampu-lampu penerang jalan mati. Angin kencang berhembus. Menggetarkan daun-daun hitam. Menegakkan bulu roma keduanya. Di dalam udara, mereka seperti mendengarjeritan tangis dari arah rumpun bambu. Udara menjadi semakin dingin. Merasuk ke dalam rongga dada.

Karena memang tabiat Dhimas Gathuk yang penakut, dia langsung memeluk Kakangnya saat jeritan semakin kencang ketika angin menerobos kencang. Hampir saja, Dhimas Gathuk menangis namun justru ditertawakan oleh Kakangnya. Suara tawa semakin renyah bersamaan dengan pelukan yang semakin erat.

“Iki lho, kamu kenapa to, Dhi?” tanya Kangmas Gothak dalam tawa renyah. “Jangan seperti bocah, Dhi. Kamu sudah tua. Sudah pantas punya bocah.”

“Itu jeritan apa to, Kang?” tanya Dhimas Gathuk saat angin bertiup kencang dan selalu disusul dengan jerit memilukan dari arah rumpun bambu.

“Hehehehehehe itu tangisan Wewe Gombe hahahahahahah…..”

Semakin riuh meledak dalam ejekan yang menggelikan. Tetap tidak membuat Dhimas Gathuk melepaskan pelukannya. Justru semakin erat pada jerit berikutnya. Di dalam bayangan Dhimas Gathuk, seorang hantu perempuan, Wewe dengan rambut panjang, baju putih yang kotor dengan payudara yang keduanya menjulur sampai ke tanah. Konon di bawah payudara yang panjang itu lah tempat di sembunyikannya orang-orang yang menghilang dengan misterius. Dhimas Gathuk mengggelengkan kepala. Dia menambah erat pelukannya. Tidak mau kalau sampai dirinya ditangkap Wewe Gombe.

Di dalam ketakutan yang justru semakin menjadi itu, Kangmas Gothak semakin keras tertawa sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Adiknya.

“Kang!” teriak Dhimas Gathuk ketakutan. “Kang… Kang…”

Tiba-tiba jalanan menjadi terang kembali. Wajah Dhimas Gathuk yang ketakutan bercampur dengan amarah terlihat jelas. Gigi-gigi Kakangnya juga muncul berderet seperti tentara yang berbaris.

“Kamu ini kenapa to, Dhi? Kok jadi seperti ini?”

“Ah, gak tahu, Kang. Mungkin terlalu lama Bapak dan Simbok dulu menakutiku.”

“Makanya kamu jangan bandel. Jangan mbeling kalau dinasehati orang tua. Sudah. Ayo pulang!”

Mereka kembali menuju rumah. Dhimas Gathuk masih tidak melepaskan pegangannya. Jeritan di kegelapan tadi masih menggelayut di dalam anggannya. Ketakutan yang membuatnya kaku. Tidak bisa berbuat apa-apa.

Karjo sudah duduk menunggu di rumah Gothak-Gathuk. Jengkel saat menyaksikan dua kakak beradik berjalan santai. Walau ketika mereka mendapati Karjo tetap saja santai.

“Ada urusan apa, Kar?” tanya Kangmas Gothak pada Karjo yang mencoba tersenyum sambil membuka buku panjang yang dia bawa.

“Lha, sekarang sudah saatnya membayar iuran, Kang?”

“Piro? Berapa?”

“Lima puluh ribu?”

“Lho, naik, Kar? Bulan kemarin baru empat puluh ribu.”

“Wah, kalau urusan itu aku gak tahu, Kang. Aku ini hanya keliling desa untuk mengumpulkan iruan. Soal itu, aku ya tidak tahu. Tapi tidak hanya punyamu sendiri yang naik, Kang. Semuanya juga naik.”

Kangmas Gothak merogoh saku celananya. Dia hanya menemukan uang tiga puluh ribu. “Ini boleh dicicil dulu, Kar?” ungkap Kangmas Gothak ringan namun Karjo hanya memandangi tidak mengerti. “Dhi?” teriaknya pada adiknya yang sudah masuk duluan. “Kamu punya uang dua puluh ribu gak? Ini si Karjo minta uang listrik.”

“Lha listrik sering mati saja kok, Kang. Minta kortingan bisa gak? Potong harga. Bulan ini kan hampir setiap hari mati. Potong harga 40%, Kang!”

Kangmas Gothak menarik pipinya. “Dicicil saja tidak boleh kok mau minta potongan harga.” Sahut Kangmas Gothak.

“Aku punya cuma lima belas ribu, Kang!” teriak Dhimas Gathuk dari dalam rumah.

Sejenak, Kangmas Gothak tertegun. Dengan jarinya dia mencoba menghitung. “Kurang lima ribu,” pikir Kangmas Gothak sambil menggaruk kepala.

“Dhi?”

“Sebentar, Kang! Baru tak carikan yang lima ribu.”

Beberapa saat kemudian, Dhimas Gathuk keluar sambil membawa cepuk yang di dalamnya dipenuhi uang receh. Karjo menarik kepala. Menyaksikan receh yang begitu banyaknya.

“Receh, Kang?”

“Tidak apa-apa?” ucap Kangmas Gothak dalam senyuman. “Kalau tidak mau biar Karjo nanti nombokin yang lima ribu.”

Karjo tetap diam. Mereka bersama-sama menghitung uang receh itu. Di sana masih ada setengahnya seratus dan membuat Karjo menggelengkan kepala. “Di zaman sekarang kok masih punya uang lima puluh perak.” Uangkapnya dalam hati.

“Katanya listrik akan naik lagi, Kang.” Ucap Dhimas Gathuk pelan sambil menghitung.

“Siapa yang bilang?”

“Orang-orang.”

“Benar itu, Kar?” tanya Kangmas Gothak dan Karjo hanya menganggukkan kepala. “Ah, tapi selama menaikkan juga pelayanan tidak masalah, Dhi. Kan juga mereka sekarang pedagang. Dulu, listrik yang mencari warga kampung seperti kita. Nah, sekarang kita yang mencari listrik. Jadi, mereka tetap menang. Toh, mau gak mau kita juga tetap butuh listrik. Kecuali kamu rela gak nonton inpotainment.”

Dhimas Gathuk mengangkat kepala sambil menunjukkan gigi tanpa suara. Lalu, disusul dengan gelengan kepala. Dia bisa makan di dalam kegelapan tapi tidak rela kalau tidak ada listrik untuk televisi.

“Nah, ini. Genap lima puluh ribu. Kalau habis bayar terus mati lagi, nanti kamu juga tak buat mati lho. Awas, Kar!” ucap Kangmas Gothak dengan serius.

“Lha, kok ngono, Kang?”

“Kamu juga pegawai mereka. Jadi kamu musti ikut tanggung jawab.”

“Halah, Kang, pegawai rendahan saja kok resikonya sebesar gunung.”

“Yang rendahan itu, Kang Karjo, resikonya sebesar susu Wewe!” sahut Dhimas Gathuk dalam seringai.

Setelah menerima uang pembayaran, Karjo pergi. Baru saja sepuluh langkah dari rumah Gothak-Gathuk, tiba-tiba, PET… dan mereka bertiga diam. Karjo sendiri masih berhenti di tempatnya semula. Sampai terdengar jeritan ketakutan Dhimas Gathuk yang teringat pada panjangnya susu Wewe Gombe yang menjulur sampai ke tanah. Desa telah gelap gulita.

“Kaaarrrrjjoooooooooo!!!!” teriak Kangmas Gothak yang langsung membuat Karjo lari tunggang-langgang. Di dalam kegelapan, terdengar suara yang semakin aneh.. BRUG…!!! BRUG …!!! CRING …!!! dan lampu-lampu jalanan hidup kembali. Dari sana, Kangmas Gothak dan Dhimas Gathuk melonggo saat melihat tubuh Karjo yang tergeletak di pelataran. Mereka berdua langsung berlari dan menemukan Karjo memegangi keningnya.

“Ampun, Kang!” ucapnya. “Nabrak pohon pisang dan pohon kelapa, Kang!” lanjut Karjo sambil memegangi kepalanya.

Kontan, kakak adik itu langsung tertawa sejadinya. Mereka tidak menolong Karjo yang masih tergeletak bertabur uang logam ratusan. Tawa itu terhenti seketika bersamaan dengan PET. Karjo sendiri langsung bangkit dan berlari kencang.

Lengkong – Banjarnegara, 25 Agustus 2010

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: