Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen, M.D. Atmaja > Objek Wisata Kematian

Objek Wisata Kematian

Objek Wisata Kematian

Oleh: M.D. Atmaja

Hari ini, Lurah Desa Luruh Indon mengumpulkan para bawahannya. Pak Lurah, katanya sedang memikirkan rencana besar bagi seluruh warganya. Rencana yang akan menjadi monumental atas pernghargaan pahlawan di peringatan tujuh-belasan nanti. Untuk memperingati hari jadi Kelurahan Luruh Indon itu, pihak pemerintah sudah menyediakan dana 180 milyar. Menurut beberapa pengamat pemerintahan, dana itu terlalu besar untuk membuat monumental peringatan kebangsaan-desa. Sebab, menurut pengamat yang sering duduk-duduk di warung kopi itu, dana sebesar itu terlalu besar kalau hanya untuk membuat monumen. Apalagi, menurut mereka, dana yang 180 milyar itu akan digunakan untuk pemugaran makam seorang mantan Lurah di kelurahan Luruh Indon.

“Kalau mau mengenang jasa-jasa beliau, ya, caranya tidak dengan begitu.” Ucap seorang pengamat satu di sebuah warung kopi. “Ya, dengan melaksanakan apa yang pernah diajarkan beliau tentang kemanusiaan dan pemerintahan yang memanusiakan manusia.”

“Lha, kalau itu idealnya. Kalau menjalankan ajaran lebih menghargai beliau sebagai pahlawan.” Ungkap seorang pengamat nomor dua sambil memuntahkan asap yang mengepul tebal.

Dhimas Gathuk mengamati dua pengamat yang saling bercakap itu. Dia sebisa mungkin ikut menyimak obrolan ahli pemerintahan yang ketika itu kebetulan singgah di warung kopi sebelum ikut menyaksikan pemugaran makam sang Mantan Lurah.

“Secara simbolis, melakukan pemugaran makam, sebagai bentuk penghargaan juga tidak salah.” Ucap seorang pengamat nomor tiga, “180 Milyar itu kecil kalau digunakan untuk penghormatan seorang pahlawan. Jasa-jasa Pak Mantan Lurah juga patut kita pandang. Beliau itu juga Guru Kelurahan. Cendekiawan dari pesantren dan bercita luhur membangun bangsa.”

“Kalau misal Pak Mantan Lurah itu dulu hanya ada di pesantrennya saja, mungkin tidak akan dihadiahi makan semahal ini, ya.” Sahut pengamat nomor dua.

“Lalu siapa dia saat itu?” pengamat nomor tiga menyahuti dengan cepat. “Lha bisa menjadi Guru Kelurahan itu karena pengabdian beliau pada Kelurahan Luruh Indon ini.”

“Walau pun, Beliau sendiri sudah menjadi seorang guru sebelum menjabat Lurah waktu lalu. Kenapa ya, kalau kita pernah menjabat tapuk pimpinan atas lalu banyak orang yang mengelu-elukan. Membingkiskan makan semahal itu. Padahal, di bawah sana, ada banyak juga yang telah berjasa bagi Kelurahan dengan caranya.”

“Namanya juga seorang pemimpin!” sahut Pengamat nomor dua pada pengamat nomor satu dan tiga.

Mereka bertiga tidak menyadari, ada pengamat nomor empat yang tidak pernah disorot media. Berbekal kemampuan dalam melihat permasalahan seobjektif mungkin, pengamat nomor empat ini terus mengawasi. Meneliti dari setiap gerakan yang nampak dan tidak nampak. Dia adalah Dhimas Gathuk, saudara muda dari Kakang Gothak. Atau mungkin, karena hanya Gothak dan Gathuk itu sehingga hasil pengamatannya tidak pernah dipandang oleh mereka akademisi di pemerintahan.

“Cukup mendebarkan juga rencana Pemerintah kita ini. Melangkah dengan bangga, menawarkan uang yang tidak sedikit untuk memugar makan seorang Mantan Lurah. Apa Pak Mantan Lurah masih bisa tersenyum ya melihat rencana pemugaran ini?” ungkap pengamat nomor dua.

“Memang masih bisa bangga?” pengamat nomor satu menyahuti dengan alangkah lugunya.

Pengamat nomor dua pun akhirnya tertawa renyah sambil menggelengkan kepala. Dengan sudut mata yang tajam, dia melihat ke arah pengamat nomor tiga karena selama ini, pengamat yang satu ini memang terkenal dalam membela setiap keputusan Pak Lurah Bye.

“Untuk apa juga beliau menginginkan makam yang indah itu? Apa manfaatnya bagi yang sudah mati dan juga untuk yang masih hidup?” ungkap si pengamat nomor dua.

“Kalau ini terlaksana dengan baik,” pengamat nomor tiga mulai menjelaskan nilai positif dari pemugaran makam Pak Mantan Lurah, “banyak orang yang akan kadang. Mereka akan mendoakan Pak Mantan Lurah yang sudah berjasa besar untuk pembangunan Kelurahan Luruh Indon kita ini. Bisa juga menjadi tempat wisata, bagi setiap peziarah yang ingin ke sana. Yah, bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar makam. Juga, makam akan lebih terawat karena menjadi monumen seorang Guru Kelurahan.”

“Ah, toh juga selama ini, sudah banyak peziarah yang berdatangan. Makan yang sederhana namun lebih memiliki nilai spiritual dan religi yang lebih agung.” Ungkap pengamat nomor dua yang mencoba menolak pendapat rekannya.

“Nah, ini juga menjadi keunggulan yang lebih menguntungkan semua pihak. Tempat ini, setelah dipugar dengan indah, pasti menyedot pelancong dari berbagai penjuru. Bersiwata religi. Memberikan hiburan dan tontonan.”

“Halah….!!” teriak Dhimas Gathuk dari meja seberang yang membuat kaget tiga pengamat yang tegah bergelut dengan pikiran masing-masing. “Mau apa? Lebih baik dana segitu besarnya buat hal lain yang lebih bermanfaat. Memberikan beasiswa masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Kelurahan Luruh Indon yang selama ini simpang siur nasib mereka. Atau untuk membantu para Korban Lapindo yang kehilangan rumah dan lahan pertanian mereka. Itu lebih bermanfaat. Ketimbang memugar makan orang makam orang mati. Dan Pak Mantan Lurah Luruh Indon pun akan lebih senang kalau dana segitu banyaknya untuk kemaslahatan umat. Toh, selama ini Beliau memperjuangkan itu.”

Pengamat nomor dua tersenyum. Dia merasa kalau anak muda kurus dengan kacamata minus itu lebih berpikir nalar dan religius ketimbang Pak Lurah Bye dan para pejabatnya.

“Mau berwisata apa di sana? Makam itu tempat beristirahatnya manusia mati. Terus, kalau ada banyak pelancong dari segala penjuru, apa Pak Mantan Lurah Luruh Indon lantas menjadi tidak kesepian apa? Makan itu tanah suci, mah mau dibuat tempat wisata. Tempatnya orang mati yang menghadap Gusti kok malah mau dijadikan tempat duniawi baru. Makam ya makam. Objek wisata ya objek wisata.”

Sang pengamat nomor tiga hendak berdiri namun Dhimas Gathuk berdiri lebih dahulu, “Masih banyak pagebluk yang membayangi Kelurahan kita! Ayak-ayak wae, makam kok jadi objek wisata. Ziarah ya ziarah, biarkan dengan dengan kesederhanaan dan laku dari peziarah. Pelancong ya pelancong yang ingin bersenang-senang. Kalau memang tujuannya penghormatan, gunakan uang untuk kemaslahatan umat banyak. Gitu saja kok repot. Mau jadi apa Kelurahan kita ini?”

Setelah puas mengumbar semua kata-katanya, Dhimas Gathuk meneteskan air mata. Dia berlari seperti perawan yang terluka hatinya. Berlari menuju ke rumah dan meringkuk di sana.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 16 Agustus 2010.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: