Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen, M.D. Atmaja > Terpenjaranya Sang Guru

Terpenjaranya Sang Guru

Terpenjaranya Sang Guru

Oleh: M.D. Atmaja

Waktu berlari dengan cepat ketika manusia merangkak di dalam kegelapan di dalam ketakutannya. Mahluk berjalan tegak, melesat dengan dua tangan dan dua kaki terlipat. Bersembunyi dari kerlip bintang. Menyelidik malam ketika mahluk sejenisnya tertidur. Dia ini, seperti bukan manusia. Dia merambat, menapaki huruf demi huruf dan menafsirkannya seperti ketika para leluhur menatap semesta alam yang bergelayut dalam irama. Dia lah lelaki dengan bekal rasa yang tersemat di dada terus menjajaki setiap jejak-jejak kehidupan.

Perjalanan yang menelusup sampai pada usia yang renta terus dijalani dalam keyakinan yang tidak pernah memudar. Dia lelaki, yang pernah menjadi buronan di negaranya sendiri atas penolakan penuggalan negara. Di perbatasan perjalanannya itu, dia masih saja bersenandung lagu indah akan langit-langit surga bagi setiap laskar sang Raja Semesta Alam. Kidung yang telah bertahun-tahun dia nyanyikan, kini membawanya untuk berjalan ke tiang gantungan. Setelah bertahun dibungkus pekatnya mendung gelap dari ledakan-ledakan misteri, dia pun melangkah sendiri. Kepalanya tetap tegak memandang tiang gantungan. Matanya berbinar terang menyangsikan pisau-pisau hukum manusia, yang entah bagaimana timbangan keadilannya.

Kabar telah bergulir, dari Tanah Barat Jawa yang hening membawa sang manusia pada kewajibannya sendiri. Kabar itu melesat, jauh ke Timur dimana seorang lelaki pengembara sedang tertidur di bawah pohon Semboja yang ada di belakang rumahnya. Lelaki pengembara dari Mataram Baru itu seketika terbangun, mendapati telepon selulernya terus berdering. Membutuhkan jawaban. Seketika, ketika mata telah terbuka, telepon di depannya telah mati kembali. Di sana ada banyak panggilan tak terjawab. Serta sebuah pesan singkat teruntuknya: Kang, Bapak ditangkap tadi di Tanah Barat Jawa.

Sang lelaki pengembara pun memandangi layar handphone dengan tatapan tidak percaya. Dua bola mata ditiraikan air bening yang terus meleleh. Dua tangannya gemetar menahan kepalan tangan. Jiwanya bergelora, lalu dalam auman panjang seperti serigala buas di tengah malam. Lolongan panjang yang dipenuhi pilu dan kemarahan sampai seorang lelaki kecil dan kurus berlari menyongsong sambil menyeret sebilah pedang panjang.

“Kang, ada apa, Kang?” pedang panjang tergeletak di tanah di samping lelaki pengembara yang meraung di tengah malam, “Kakang Gothak, ada apa?”

Tidak ada jawaban. Hanya gelengan kepala dan tangis pilu yang menyayat. Lalu, Gothak pun langsung memeluk lelaki di depannya yang juga adalah adiknya sendiri.

“Bapak telah difitnah, Dhi!” ucap Gothak sambil menangis, “Bapak ditangkap!”

Gathuk tidak mengatakan apa pun. Hanya membalas pelukan saudara tuanya. Ia mengusap punggung kemudian menepuknya perlahan-lahan. “Ini ujian, Kang.” Ucap Gathuk.

“Ini tidak benar, Dhi. Bapak seorang penyebar ilmu. Dia ahli dakwah. Dia guru bagi bangsa ini. Bapak bukan teroris.” Ucap Gothak dalam kemarahan yang memuncak.

“Polisi punya analisa sendiri, Kang.” Sahut Gathuk dalam senyuman kecil mencoba untuk menenangkan saudara tuanya.

“Tidak ada yang lebih mengenal Bapak dari murid-muridnya sendiri. Mereka hanya menebak-nebak. Menyangkut-sangkutkan sesuatu yang tidak ada hubungannya.”

Dhimas Gathuk menarik nafas panjang. Dia masih mendekap Kakangnya yang menangis. “Aku memang tidak pernah mengenal Bapak seperti Kakang Gothak mengenal beliau. Bagaimana pun juga, setiap orang memiliki penilaian mereka sendiri, Kang. Beliau memang seorang guru bangsa. Pendidik bagi jiwa orang yang mengikuti. Orang yang berada di dalam garis akan mengatakan kalau Beliau bukan teroris, bukan penjahat. Lalu, bagaimana dengan yang berada di luar garis, Kang?”

“Ini sudah tidak benar, Dhi!” Kangmas Gothak menegaskan sambil melepaskan diri dari pelukan adiknya. Dia meraih pedang yang tergeletak di atas tanah, “Bapak pernah dipenjara atas kesalahan yang tidak pernah Beliau lakukan. Mendekam di pengabnya penjara selama 26 bulan atas fitnah yang dituduhkan. Tahun 2002 telah menjadi saksi abadi, kalau selama ini Bapak telah diincar untuk dibumi-hanguskan.”

“Jangan mendakwa seperti itu, Kang!”

“Aku tidak mendakwa!” sahut Gothak sambil mengangkat pedang panjang dan mengacungkannya ke udara. “Hukum negara ini telah memfitnah seorang guru. Mengincar seorang ulama agar meringkuk dan membusuk dalam kejahatan yang dilipahkan!” Gothak sudah terberangus oleh amarah yang bercampur dengan kesedihan.

“Lha, terus kalau Kakang Gothak mengatakan itu, apa Kakang memiliki bukti? Bukan sebatas fitnah untuk membela fitnah yang dilontarkan?”

Kangmas Gothak memandangi adiknya yang tetap tenang walau di matanya terpancar amarah.

“Kami berdakwah demi tegaknya agama Allah!” ungkap Kangmas Gothak.

“Dengan membunuh orang lain?”

“Kami tidak pernah membunuh. Kami pendakwah, menyebarkan kebaikan dan perjuangan atas agama yang kita sama-sama yakini, Dhi!”

“Atas dasar apa, Kang?”

“Kobarkanlah semangat para Mukmin untuk berperang*!” sahut Kangmas Gothak  dengan pandangan tajam. “Kemungkaran dan jalan-jalan setan harus dihancurkan, Dhi!”

“Lalu, memerangi negaranya sendiri?” sahut Dhimas Gathuk dengan pertanyaan sinis.

“Negara ini telah menantang Allah, Tuhan Semesta Alam. Rakyatnya disengsarakan dengan kebijakan hukum yang tidak berperikemanusiaan. Berperikemanusiaan saja tidak, Dhi, apalagi berperiketuhanan?”

“Kang,”

“Lumpur di Sidoarjo sampai hari ini masih menyisakan tangis. Perang petani dengan PTPN VII di tanah Ulayat. Kemiskinan yang menusuk sampai seorang ibu membakar diri dan anaknya hanya karena hutang dua puluh ribu, Dhi.” Kangmas Gothak memotong adiknya yang kini menundukkan kepala. “Negara macam apa ini? Kemungkaran terlembagakan. Kemungkaran yang menjadi negara. Ini jalan setan. Jihad adalah wajib bagi setiap muslim. Memusuhi kemungkaranan.”

Kangmas Gothak mengatur nafasnya. Pandangannya berubah ramah setelah tajam menusuk relung hati. “Begitulah, Adikku, Dhimas Gathuk, Bapak mengajarkannya kepada Kakangmu dan yang lainnya. Beliau, seorang guru. Namun hukum di negara ini membawa leburan kaca untuk mengalir di dalam darah. Membawa seorang guru bagi sanubari rakyatnya ke dalam pengabnya jeruji penghinaan.”

Dhimas Gathuk hanya menundukkan kepala. Dia meresapi kata-kata saudara tua yang berlari menjadi pengembara mencari kebenaran atas perjalanan kehidupan. “Setiap mukmin harus berani berperang!” ucap Dhimas Gathuk di dalam hati, “Memerangi kemungkaran, memerangi jalan-jalan setan!”

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 14 Agustus 2010

*) Al-Anfal: 65

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: