Beranda > Esai, M.D. Atmaja > Pengabdian Ala Sastrawan Lekra

Pengabdian Ala Sastrawan Lekra

Oleh M.D. Atmaja

Studio Semangat Desa Sejahtera

Mengkaji keterkaitan antara karya sastra dengan kondisi sosio-budaya dan politik berarti melihat fungsi sosial sastra sebagai media propaganda yang dapat dijadikan sebagai media untuk mempengaruhi dan menggerakkan masyarakat pembaca. Sastra menempati posisi sebagai suara yang mengajak (atau setidaknya memberikan informasi) untuk melakukan perubahan, menjaga stabilitas (dan) keharmonisan kehidupan, telah melahirkan cabang ilmu sastra baru. Cabang ilmu ini mengambil dasar pada sejarah dalam proses penciptaannya yang kemudian disebut dengan realisme sosialis.

Realisme sosialis menjadi faham di dalam sastra yang secara netral tidak memposisikan diri sebagai metode dalam proses penciptaan karya sastra, melainkan sebagai hubungan filsafat yang mana dijadikan landasan di dalam proses penggarapan karya sastra itu sendiri. Realisme di dalam realisme sosialis tidak diartikan sebagai konsep mengenai kebenaran yang mutlak. Kebenaran yang diusung oleh realisme sosialis bukan kebenaran yang telah terjadi di dalam kehidupan realitas masyarakat, akantetapi lebih sebagai bentuk kebenaran yang sebatas bagian dari kebenaran di dalam proses dialektik.

Hubungan antara karya sastra dengan hal yang berada di luar sastra (katakan: politik) memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Sastra sebagai media manifestasi  dari perkembangan politik yang berlangsung di kehidupan masyarakat. Sastra sebagai media untuk memberikan pendidikan dan sekaligus juga perlawanan.

Kondisi ini pernah terjadi di Indonesia pada sekitar tahun 1955 – 1956, yang pada kondisi di masa itu telah menempatkan karya sastra sebagai lat pengukuhan atas suatu faham kepada masyarakat Indonesia. Kelompok sastrawan yang mengangkat politik sebagai bagian dalam proses penciptaan karya adalah golongan sastrawan yang menamakan diri dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada masa itu, kita mengenal Lekra sebagai golongan sastrawan yang menjadikan sastra sebagai alat propaganda Partai Komunis Indonesia. Di sisi lain, sastrawan Lekra lebih dikenal dengan karya sastra yang menyuarakan kemanusiaan yang di dalamnya juga mengandung unsur marxisme-leninisme.

Sastrawan Lekra menyatakan bahwa kebudayaan merupakan senjata yang mematikan demi terwujudnya revolusi kaum proletar. Slogan yang diusung oleh sastrawan Lekra, yang dikutip bebas oleh penulis, bahwa sastra harus mengabdi pada kepentingan rakyat dan revolusi. Filsafat marxisme-leninisme menjadi pedoman yang mendasar bagi penggarapan karya.

Sastra dalam pandangan sastrawan Lekra adalah karya yang di dalamnya memuat tiga-tinggi, yaitu tinggi ideologi (marxisme-leninisme), tinggi artistik, dan tinggi organisasi. Di dalam pandangan sastrawan Lekra, karya juga harus mengandung tiga-baik, yaitu baik bekerja, baik belajar, dan baik moral. Penilaian karya sastra (dan tentunya di dalamnya adalah seni secara umum) menggunakan metode yang berbunyi “politik sebagai panglima” yang mengatakan bahwa fungsi sastra harus mengabdi pada kepentingan revolusi yang mengacu pada filsafat MDH dan marxisme-leninisme.

Sastrawan Lekra memegang nilai moral, yang apabila menurut Sudisman yang termuat di dalam Pledoi Sudisman, dikatakan bahwa moral kaum marxis adalah norma atau ketentuan yang mengatur kebebasan aktivitas seseorang sesuai dengan kelasnya.  Dalam proses penciptaan karya sastra, sastrawan Lekra memegang prinsip kemanusiaan, prinsip keadilan, dan kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan rakyat kecil. Sastrawan Lekra melakukan keberpihakan pada rakyat kecil melalui karya-karya yang mereka ciptaan, misalnya, Marco Kartodokromo. Pada saat kondisi politik memanas dan di dalamnya terjadi perseteruan antara Lekra dengan Sastrawan Manikebu, dengan terang-terangan sastrawan Lekra mempraktekkan teori Gorki yang menempatkan sastra sebagai senjata.

Setelah masa Lekra berakhir bersamaan dengan kegagalan Partai Komunis Indonesia (yang katanya) melakukan pemberontakan yang terkenal dengan kudeta 30/S/PKI atau Gestapu (Gerakan September Tiga-puluh), banyak sastrawan Lekra yang ditangkap dan dibunuh. Terlepas dari tragedi 30 September dan yang memicu pembantain di hari yang menjadi moment kesaksian Pancasila, dapat dilihat, bahwa dengan karya sastranya, para sastrawan Lekra melakukan pengabdian bagi kemanusiaan. Pemihakkan pada nasib rakyat kecil menjadi agenda utama, yang dilakukan untuk menggalang kekuatan rakyat sipil untuk mewujudkan revolusi Indonesia. Akhir kata, pengabdian sastrawan Lekra harus mereka bayar dengan darah dan luka.

Doa serta salam, semoga mereka yang telah gugur mendapatkan balasan dan keadilan yang sebaik-baiknya dari yang memiliki hak atas mereka.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: