Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen, M.D. Atmaja > Sebutir Nasehat di Tepi Nasi

Sebutir Nasehat di Tepi Nasi

Dini hari terasa begitu dingin. Tidak seperti biasanya. Gerakan angin tidak terasa namun dinginnya membekukan tulang.  Udara juga bersih dari riang jangkrik. Tidak ada gerakan sama sekali. Malam seperti telah berada di dalam kekosongan. Tanpa kehidupan. Berjalan pelan namun sangat pasti tanpa terhalangi apa pun. Berdetak dalam detik yang terus berganti sebagai langkah yang tidak bisa undurkan. Perjalanan waktu.

Dhimas Gathuk, menarik sarung. Membungkus tubuhnya yang telah melingkar dengan lebih rapat lagi. Sarung yang tipis itu, juga tengah berjuang keras. Melindungi daging di bawahnya agar tidak membeku karena pagi. Perlahan-lahan, udara di bawah sarung terasa panas. Dingin terpupuskan. Dhimas Gathuk langsung menghempaskan sarung. Berkali-kali dia berpindah posisi. Seperti bunga tidur kali ini tidak mampu memberikan dia kenikmatan pada kematian yang sesaat. Sampai akhirnya dia pun tersentak saat setumpuk dingin menimpa keningnya. Dhimas Gathuk mengusap. Di sana tidak ada apa-apa. Hanya ekor cicak yang meronta. Ditinggalkan sang empunya yang lari tunggang-langgang.

Pagi ini kembali dingin menyusup. Dhimas gathuk dinding mencari penunjuk waktu. Lima-sepuluh menit, begitu yang dia dapatkan. Pandangannya menyusur sela-sela. Mencari cicak yang telah menjadikan keningnya sebagai tempat pendaratan. Dia membuang nafas jengkel. Mengusap keringat yang membasahi tubuh di pagi yang dingin.

“Subuh terlewat.” Ucapnya pelan bangkit untuk membuang ekor cicak dan membasuh diri agar suci.

Tahu, karena sudah hampir kehilangan waktu sujud, Dhimas Gathuk terburu kembali ke ruangan kecil di bagian rumahnya yang lain. Dia menghadap ke barat, mengamati bentangan permadani yang masih memancarkan bau harum. Dia mengheningkan cipta. Menghadapi kekuatan yang telah menciptakan segala yang apa yang dia miliki. Begitu rendah ia bersujud. Menyerahkan dalam kepasrahan diri. Setelah selesai, Dhiamas Gathuk menyusuri benang berbulir sembilan puluh sembilan. Lama sampai matahari memancar dari timur mencairkan kebekuan.

Dhimas Gathuk mendapati kesunyian bersemayam di rumahnya. Kakangnya yang selalu berkelana tidak ada di sana. Walau dahulu setiap pagi hari, Kangmas Gothak sering melantunkan tembang-tembang yang dikarang sendiri. Tembang itu yang hadir setelah penempuhan perjalanan panjang. Kangmas Gothak memang seperti Bapak mereka, almarhum, yang senang berkidung atas segala yang mereka rasakan.

“Kang? … Kang? … Kang? …Kang?”

Dhimas Gathuk memanggil-manggil Kakangnya namun tidak ada jawaban. Dia terus mencari sampai keluar. Di halaman tidak nampak. Dhimas Gathuk menerawang ke tengah sawah yang diwariskan oleh leluhur mereka. Di sana juga tidak terlihat tanda-tanda tentang Kakangnya.

“Ah,” Dhimas Gathuk menepuk pahanya, “pergi kok tidak pamitan.

Dhimas Gathuk menggelengkan kepala. Dia masuk kembali ke dalam rumah. Di pagi itu juga, dia langsung menuju ke meja makan. Berharap, sebelum Kangmas Gothak pergi telah meninggalkan makanan untuk mengisi perut yang kelaparan. Apa yang diharapkan pun terlaksana. Di atas meja makan sudah disiapkan sarapan di pagi ini. Di atas cetudung, ada selembar kertas. Tulisan tangan Kakangnya yang pergi untuk mengembara.

Masih saja seperti dahulu, Dhi. Kamu tidur tapi menjadi pengganggu untuk tetanggamu. Pulas. Benar-benar lupa. Pantas saja dahulu Bapak sering bilang, kalau tidurmu mendekati mati. Benar-benar yang mati sampai lantunan subuh pun tidak terdengar.

Aku sudah masak untukmu, Dhi. Makanan kesukaanmu, Tempe Goreng dan sambel. Ha… Ha… Ha… jadi ingat Simbok yang sering bilang: “Masak makanan kesukaanmu, Le!” walau hanya masak daun singkong dan bukan kesukaan kita. Ah, Simbok, memang Simbok yang dengan senyuman dan cintanya mampu membangkitkan gairah kita untuk makan.

Dhi, tapi maaf, tempenya hanya tak sisakan dua, ha… ha…. ha……. aku tahu kalau kamu mampu menahan lapar dengan lebih baik daripada Kakangmu ini.

Dhi, semalam aku teringat Bapak, yang dahulu sering menyuruh kita untuk mengobati hati, dari rasa sakit dan kekecewaan. Kesombangan pun bisa dari hati, Dhi, jangan sampai hati kita menjadi buta hanya karena dunia. Sarapan pagi ini, Dhi, sarapan terakhir kita bersama dengan Simbok dan Bapak, bagaimana Bapak dan Simbok memesankan agar kita memelihara hati dalam niat. Sebab, kata Bapak dan Simbok, di sana lah awal dan akhir dari perhitungan yang dihitung Tuhan.

Adikku, memang susah hidup bermasyarakat. Hendaknya lebih bijak. Kalau beribadah, jangan menenggok ke orang lain. Sembunyikan dan jangan sekali kamu memamerkan demi dunia ini. Dhi, amal yang diperlihatkan tidak mendapatkan apa pun, selain maksud memperlihatkan itu. Salah-salah, menjadi riya, ujub, menjadi hal yang mengotori ibadahmu.

Nah, sekarang mumpung ada nasi, tempe goreng dan sambel, makan pagi dan syukuri, Dhi. Selamat makan.

Dhimas Gathuk memandangi nasi yang ada di atas meja. Dia tersenyum teringat pada Bapak dan Simboknya yang kini telah pergi jauh. Lalu, dia makan sengan lahap. Lauknya adalah kebanggan yang memenuhi dada. Alhamdulillaah.

Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera

28 Juli 2010

M.D. Atmaja

http://www.saspropam.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: