Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen, M.D. Atmaja > Sekitar Jam 12 Siang

Sekitar Jam 12 Siang

Ini cerita di waktu yang tidak pasti. Bisa jam 12 kurang sekian-sekian menit, atau jam 12 lebih sekian-sekian menit. Tapi jarang, terjadi di jam 12 tepat. Dhimas Gathuk, dipertemukan pada babak kehidupan lain yang memberikan dirinya wejangan luar biasa. Wejangan akan kehidupan seorang yang selama dikenal sebagai seorang teladan di STS Sinar Terang.

Di satu hari, yang sebenarnya memang hari yang biasa. Sebab tidak ada yang spesial di sana, semuanya berjalan dengan tugas-tugas rutin yang kadang, disulap menjadi tugas tidak rutin. Agar dikeluarkannya surat untuk melaksanakan tugas itu dan menjadi hal yang tidak biasa. Bukan menjadi tugas rutin lagi. Nah, kalau sudah seperti itu, di akhir cerita akan ada amplop yang berputar-putar.

Tapi pengalaman sekitar jam 12 siang ini tidak membahas itu. Soal rutin menjadi tidak rutin, akan diungkapkan nanti. Sekarang masalah jam 12 yang menjadi waktu untuk sang Biduan mengumandangkan nada-nada suci yang menggerakkan manusia. Nada suci yang membuat manusia berhenti dari semua aktivitas dan menuju ke alur doa. Dhimas Gathuk tidak sempat berhenti, dia masih menyetempeli kertas-kertas dengan tulisan: SEGERA.. AMAT SEGERA karena surat yang seharusnya terkirim dua hari yang lalu terlambat dikirimkan. Salah siapa? Tidak membicarakan masalah itu juga.

Setelah selesai, Dhimas Gathuk melangkah ke tempat dimana para pegawai bawahan STS Sinar Terang biasa berkumpul. Ada 2 ruangan di sana. Ruang yang satu untuk berdoa, yang kadang berjamaah. Ruangan yang satu lagi untuk membuat minum, dan juga merokok. Dhimas Gathuk ke sana dan merokok. Ssambil menikmati teh manis yang panas, Dhimas Gathuk pun menghisap tembakau yang telah diharamkan bapak-bapak di PMPN. Seteleh itu, berencana berdoa untuk melaksanakan kewajiban dan kebutuhan jiwanya. Dhimas Gathuk menjalankan lima waktu dalam manfaatnya.

Baru saja dua kali hisap, Mbah Udin, begitu orang-orang memanggilnya datang sambil membawa baki yang dipenuhi gelas kosong.

“Dicari Pak La-Nang, Le!” ucap Mbah Udin sambil meletakkan baki itu.

Belum sempat Dhimas Gathuk menyahuti, Pak La-Nang muncul dari balik pintu tidak berdaun. Beliau, Pak La-Nang memandangi Dhimas Gathuk sambil menggelengkan kepala. Lalu berbalik dan pergi lagi. Entah ke sana untuk apa. Tanpa kata. Tanpa sapaan. Hanya gelengan kepala Pak La-Nang yang masih tertinggal, menjadi PR bagi Dhimas Gathuk.

“Nanti dimarahi kamu, Le.” Ucap Mbah Udin dalam senyuman kecil. “Ora opo-opo, sudah biasa di sini. Memang tempat buat merokok!”

“Di sini juga tidak boleh, Mbah?” tanya Dhimas Gathuk sambil menghisap tembakaunya sekali lagi.

“He… he… he…” tawa Mbah Udin renyah dan tenang.

Dhimas Gathuk tidak melihat adanya kejanggalan. Dia menghabiskan rokok kemudian berdoa, di samping kiri kanan para sopir yang kebetulan ada di sana. Berdampingan dengan para penjaga gerbang, dan pegawai bawahan lainnya. Setelah cukup berdoa, Dhimas Gathuk kembali ke dalam kantornya yang besar dan dingin karena AC yang terus menyala.

Baru saja Dhimas Gathuk duduk, langsung terdengar kata-kata keras yang terlontar untuknya.

“Bulan Juli semakin dekat. Bukan membenahi diri dan semakin rajin. Orang tidak berada di tempat semestinya. Justru bergabung bersama yang bawah. Bersama-sama madat!” Pak La-Nang meneriakkan dalam hiruk pikuk yang tidak sanggup Dhimas Gathuk mengerti.

“Ada apa, Pak?” tanya Dhimas Gathuk yang benar-benar tidak mengerti.

“Saya kira tadi ke aula berdoa. Untuk berdoa.”

“Saya tadi merokok sebentar. Saya sudah berdoa, Pak!” sahut Dhimas Gathuk cepat. “Saya tidak madat. Hanya merokok. Tidak madat!”

“Sudah banyak yang melapor. Menjadi noda di sini. Orang atas yang bersama mereka yang ada di bawahan.” Ucap Pak La-Nang kembali dengan tegas.

“Kalau salah, saya memohon maaf, Pak. Tapi saya di sana tidak madat. Hanya merokok. Di sana juga berdoa. Tidak ada yang madat!”

Tidak ada sahutan. Hanya pandangan mengarah dengan keras. Dhimas Gathuk meradang ketika dibilang madat. Dia meradang ketika Mbah Udin dan kawan-kawannya mengobrol sambil menikmati teh dan tembakau dibilang tukang madat. “Kalau Juli, lalu kenapa?” ungkap Dhimas Gathuk dalam hati. “Hanya karena merasa berkuasa, lalu mendakwa seenaknya. Menuduh orang seenaknya. Aku juga berdoa. Tidak perlu dipamerkan!” ungkapnya dalam grenengan sambil mengambil air dingin agar hati dan pikirannya juga menjadi ikut dingin.

“Lain kali kalau sudah waktunya langsung ke aula berdoa!” ucap Pak La-Nang kembali.

“Iya, Pak! Nanti saya akan melapor sehabis berdoa!” sahut Dhimas Gathuk dan kembali sibuk mengerjakan kebiasaannya.

Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera,

Selasa, 20 Juli 2010

sumber: http://www.saspropam.wordpress.com; M.D. Atmaja; 20 Juli 2010

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: