Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen, M.D. Atmaja > Cinta di Atas Karang dan Ombak

Cinta di Atas Karang dan Ombak

Sumber: http://www.dhianhmda.wordpress.com; M.D. Atmaja; 10 Juli 2010

Pagi hari, di deret panjang perbukitan pada tepian sepanjang Pantai Selatan, ada ombak yang mendebur dengan sangat keras. Ombak berlari dari selatan, langsung saja menghamtam karang dingin yang bertahan. Keras sampai airnya memercik, dibawa udara pergi membuat angin semakin dingin. Kelam terserap ke dalam hati yang berusaha untuk menjadi buta.

Lelaki Pendosa, menyusuri hatinya sendiri sambil melangkah di atas pasir yang menggelitik kaki telanjangnya. Dia tersenyum ketika pecahan ombak mengguyur mukanya bersama angin dan rintik hujan di pagi hari. Begitu lembut membelai jiwanya yang kelana. Jiwa yang perlahan-lahan mulai lelah, namun telah tersepuhkan kembali oleh seorang perempuan yang dia temui di tikungan jalan pada surau kecil bercahaya terang. Perempuan Pendoa, melalui tatapan mata dan senyuman bijak memberikan kekuatan bagi lelaki pejalan jauh yang kini tengah berdiri di ujung karang menatap ombak yang keras membentur pantai.

“Luas,” Lelaki Pendosa bergumam sambil memandangi pantai dari atas karang sementara perempuannya memandangi dengan khawatir.

“Padahal dulu tidak seperti ini.” Ucap Perempuan Pendoa yang duduk pada pembatas di tepian karang, menyaksikan lantai karang yang dahulu indah di dalam ingatannya.

“Ombak telah mengikisnya, Sayang.” Sahut Lelaki Pendosa pelan dalam senyuman. “Perlahan-lahan namun pasti, mengikis dikit demi sedikit.”

Perempuan Pendoa mengarahkan pandangan pada lelaki yang tersenyum kecil padanya. “Aku tahu, Mas, sedikit demi sedikit akhirnya akan terkikis juga. Ombak mengikis segalanya!”

Lelaki Pendosa tersenyum, “Selayaknya waktu yang mengalir perlahan-lahan, membuat kita semakin rapuh di setiap detik berganti.” Lelaki Pendosa menundukkan kepala, menyaksikan karang yang menusuk kaki telanjangnya. “Waktu terus menggerus tanpa ampun, membuatku semakin lemah sementara jiwa ini tetap sebagai pendosa. Selamanya akan tetap sebagai pendosa.”

“Sayang,” sahut Perempuan Pendoa dengan langsung bangkit dan memeluk lelaki yang tengah berdiri di atas karang. “Ombak itu tajam, Mas, lidahnya mampu menggerus karang yang saat ini melukai kita. Perlahan-lahan namun pasti, itu katamu.” Perempuan Pendoa menahan sesak air mata di dalam dadanya.

“Kenapa?”

“Kata-katamu, Mas, yang setiap saat kamu ucapkan. Pikiran-pikiran buruk yang setiap saat terlintas di kepala kita, selayaknya ombak ini. Semuanya terus mengalir dengan perlahan-lahan sampai akhirnya datang sebagai doa yang terus kita kukuhkan sendiri. Jangan pernah lagi berprasangka buruk pada kehidupan yang tengah kita jalani, Mas!” ucap Perempuan Pendoa sambil terus memeluk kekasihnya.

“Aku tahu, Sayang!” sahut Lelaki Pendosa yang langsung membalas pelukan kekasihnya. “Tubuh kita adalah karang ini, karang yang rapuh terus bertahan pada harapan-harapan kita sendir yang mengalun sebagai ombak abadi yang menggerus.”

“Mas,” Perempuan Pendoa memandangi dua mata kecil milik lelaki di hadapannya “Jadikan jiwamu ini sebagai ombak, Mas, dunia ini sebagai karang.” Ungkap Perempuan Pendoa sambil terus merasukkan pandangan pada lelaki yang berdiri dengan gemetar.

Pandangan Perempuan Pendoa memancarkan aroma yang membius lelaki itu. Dia berdiri terpaku di atas karang. Menyaksikan pergulatan ombak, ketika meluncur dari tengah lalu menyobek-sobek karang terjal pegunungan selatan. Dua manusia itu saling menenggelamkan diri pada pelukan hangat diantara deburan ombak yang pecah dan hujan gerimis yang membasuh.

Mereka saling bertatapan, sampai lelaki itu tersenyum lebar, “Doa atau pun dosa sama saja, lelaki perempuan sama saja. Keduanya ada untuk melengkapi. Karang menanti belaian ombak yang menghancurkan. Belaian mesra dari asinnya garam kehidupan walau karang tahu akan kehancurannya. Oh, cinta. Seperti belaianmu padaku, belaianku padamu. Bisa menghancurkan. Bisa menyatukan. Ombak mengikir karang untuk menjadi pasir agar terserap ke dalamnya, ke dalam gulungannya. Keduanya menjadi satu dalam persetubuhan yang menggairahkan di setiap detiknya!”

Lelaki pendosa membuka lebar tangannya. Lalu perlahan-lahan menarik si perempuan dan merengkuhnya dengan dalam, “Sudah berapa ribu kali aku mengatakan kalau aku mencintaimu? Aku memang mencintaimu. Segala rasa yang ada, apa pun itu, akan aku terima dengan hati terbuka. Walau, andaikata kita membelah kita, aku ikhlas. Aku mencintaimu, Kekasihku. Aku mencintaimu, Perempuan pendoaku! Aku mencintaimu, Istriku!”

“Aku juga mencintaimu, Mas!” sahut Perempuan Pendoa dalam senyuman dan pelukan yang hangat sementara hujan gerimis membasuh dan asinnya lautan memercik.

Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks

Sabtu, 10 Juli 2010

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: