Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen, M.D. Atmaja > Dhimas Gathuk Ketemu Pungli

Dhimas Gathuk Ketemu Pungli

Sumber: http://www.saspropam.wordpress.com; M.D. Atmaja; 08 Juli 2010;

Pada siang hari, ketika Dhimas Gathuk sedang bekerja untuk salah satu Padepokan milik Pendopo Matahari Pengikut Nabi, yang sering kita dengar dengan nama PMPN itu, dia sedang membersihkan salah satu tiang pendopo dekat dengan kerumunan para santri yang tengah mengobrol. Para santri itu berkerumun, sambil sembunyi-sembunyi menikmati rokok, yang menurut orang-orang tua di Pendopo bahwa rokok itu haram. Hal itu lah yang membuat para santri menikmati rokok dengan sembunyi, takut, malu, karena menikmati barang yang telah telah diharamkan orang-orang tua di Pendopo walau pun sebenarnya Nabi yang mereka ikuti tidak mengharamkan itu.

Dhimas Gathuk tengah sibuk, tanpa sengaja mendengarkan bisikan-bisikan para santri yang menyusup di dalam udara yang riuh dengan persiapan ulang tahun akbar. Mereka saling memandangi dengan pandangan penuh curgiga. Menulur ke semua tempat, termasuk pada Dhimas Gathuk yang berpura-pura tidak mendengar. Para santri itu terus saja bergumam sambil terus saja menyelidik.

“Kemarin ditarik berapa tho sebenarnya?” tanya seorang kurus dengan rambut agak gimbal yang seringkali disebut bejo.

“”Lima puluh ribu!” sahut Munir cepat, yang seorang aktivis dari Himpunan Santri Islam itu.

“Memangnya duitnya buat apa? Kok kita masih ditarik juga, apa belum cukup?” tanya Bejo kembali sambil memandangi keseluruh teman-temannya yang ada di sana.

“Ah, gak tahu juga,” sahut Agustus, lelaki lain yang kebetulan ada di sana.

Mereka saling berpandangan saat Dhimas Gathuk mendehem keras saat seorang pejabat PMPN berjalan menuju ke arah mereka. Para Santri itu pun diam, menyaksikan pejabat PMPN yang lewat sambil membawa beberapa stoftmap berwarna hijau. Setelah orang itu lewat, pandangan para santri dialihkan pada Dhimas Gathuk yang masih berpura-pura membersihkan tiang Pendopo yang sebenarnya sudah bersih.

“Ya uang kita itu buat kegiatan ini!” sahut Munir yang nge-fans dengan Aktivis HAM Munir yang sampai kini kasus pembunuhan dirinya belum jelas.

“Kok kita ikut terbebani dengan ini, sih? Bukankah tidak masing-masing dari santri di sini sepakat dengan Pendopo? Bukan juga anggota dari Pendopo ini.” Ungkap an-Jauhhari seorang yang kebetulan jebolan dari Pesantren dari Padepokan di Jawatimur sana. “Setahuku, tiga kali kita ditarik untuk masalah ini.”

“Bagaimana pun juga, saat kita berpijak di sini segala macam aturan harus kita pahami dengan bijak. Mereka memiliki hak untuk menarik berapa pun dari kita.” Ucap Munir dalam senyuman. “Hanya saja permasalahannya, kita tidak diajak ngobrol untuk masalah ini. Kita, semestinya diajak ngobrol, walau sekedar untuk memberitahukan akan ada penarikan untuk tiga kali itu.”

“Maksudmu kita itu siapa, Nir?” sahut Agustus yang menaikkan alisnya.

“Ya, kita ini, KBS, Keluarga Besar Santri. Dan setahuku, tidak ada komunikasi yang logis antara Pendopo dengan KBS.”

“Ada atau tidak sih, aturan dari Diknas, mengenai pemungutan dana di luar dana pendidikan?” tanya Bejo yang sambil menghembuskan asap rokok dan kemudian mengaburkannya dengan buku tangan agar tidak ketahuan pejabat PMPN kalau mereka sedang merokok.

Semua orang menggelengkan kepala, termasuk Dhimas Gathuk yang ikut mendengarkan.

“Terus, bagaimana dengan penarikan lima puh kali tiga ini?” tanya Bejo kemudian. “Bukankah seperti pungli saja. Kita tanpa tahu apa-apa, tiba-tiba biaya pendidikan membengkak untuk hal yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan. Haram!” Bejo menegaskan yang hanya membuat kawan-kawannya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Sudahlah, Jo, diikhlaske wae.” Sahut an-Jauhhari dalam senyuman.

Pembicaraan para Santri itu terus saja mengalun. Dhimas Gathuk tersungkur di bawah tiang Pendopo yang telah bersih. Tenaganya hilang. Dia mengelus dada, yang terasa sesak. Terasa begitu sesak ketika ucapan Bejo melintas di kepalanya. Pungli! Haram! Lalu pandangannya terpaku pada bendera matahari yang berkibar dengan lesu dan berat sebab habis diguyur hujan semalamam. Dhimas Gathuk menggelengkan kepala, lalu dia berdiri sambil menggelengkan menggumankan sesuatu:

“Salam, Rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi. Salam semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh.” Dhimas Gathuk pergi meninggalkan Pendopo untuk merokok di sana, di bawah pohon Semboja.

Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks

Kamis, 8 Juli 2010; M.D. Atmaja

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: