Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen > TARIAN LANGKAH KECIL

TARIAN LANGKAH KECIL

Sore, ketika matahari telah mulai menjadi ramah, Lelaki Pendosa melangkah memburu di jalan-jalan padat Kota Tua yang menyimpan jasat para raja-raja. Setelah menggali ke dalam diri, dia menemukan selingkar putih yang memutih dengan satu mata jernih di tengahnya. Sang Lelaki Pendosa memacu langkahnya yang semakin gemetar ketika langit menurunkan jarum-jarum air mata.

“Melambatlah untukku!” bisik si Lelaki Pendosa pada langkah waktu yang berada di depannya, “Aku memohon!” lanjutnya setelah perjalanan waktu tidak juga melambat.

Tiba-tiba saja, si Lelaki Pendosa memacu langkahnya. Semakin cepat untuk mengejar waktu yang berjalan biasa. Namun tidak juga ia mampu untuk mendahului, sampai akhirnya si Lelaki Pendosa pun kini ganti memburu matahari yang akan segera menghilang di balik bumi. Di ufuk barat sana, langit sudah bersemburat merah, dan Lelaki Pendosa terus menerobos kegelapan yang semakin padat membungkus.

Sementara itu, di atas perut si Lelaki Pendosa, melingkar cincin sebuah daging yang halus dengan bulu lembut dan warna alas yang putih kekuningan. Perut yang menahan dentuman lambung yang semakin terasa perih, cincin itu melingkar erat, mendekapnya memberikan kehangatan. Itu lah, lengan si Perempuan Pendoa, yang terseret ketika sang Lelaki Pendosa yang berjalan jauh mengejar matahari yang pulang, mengejar keabadian.

“Aku tahu, Engkau ingin mengujiku!” ucap sang Lelaki Pendosa dalam gumaman, si Perempuan Pendoa melingkarkan tangannya semakin erat, “Dan Engkau pasti juga tahu, aku tidak akan terpatahkan! Tidak akan pernah terpatahkan!” lanjut si Lelaki Pendosa bersamaan dengan senyumannya yang semakin lebar.

“Kumandang Adzan telah selesai, Mas!” ungkap Perempuan Pendoa dari belakang, terdengar seperti bisikan lembut yang mendebarkan.

Tanpa ada perintah, lelaki yang tergesa memburu waktu membelokkan arahnya ke sebuah surau kecil di tepian pantai. Gemuruh ombak Pantai Selatan, mendeburkan pecahan ombak yang menjadikan udara semakin dingin. Di sana mereka berdoa dan kembali kembali melanjutkan perjalanan, menerobos kegelapan malam. Mereka hanya berdua saja. Tidak ada siapa pun di sana, hanya samar-samar, tasbih pohon-pohon pandan bersahutan dengan tasbih ribuan pasir yang terus mengalun dalam deburan ombak yang terus bertasbih. Mengingat atas perjalanan.

Perempuan Pendoa melangkah ringan, mengikuti kekasihnya, si Lelaki Pendosa, mereka berjalan menyongsong kegelapan, menyongsong ombak, menyongsong kesenyapan, sampai bertemu empat tiang dan mereka berdiri di tenganya sebagai satu tiang yang menjadi pusatnya. “Seperti ini kah empat saudara dan satu pusat itu?” gemerisik alam yang menyaksikan keduanya. Lelaki Pendosa, memasukkan tubuh si Perempuan Pendoa ke dalam dirinya. Mereka lalu melangkah kecil di dalam tarian yang tidak biasa.

“Aku ini lelaki yang tidak tahu, bagaimana musti mencari keindahan agar engkau bahagia. Aku tidak mampu untuk menyusur setiap jalan dan mempersembahkan keindahan itu untukmu!” ungkap si Lelaki Pendosa dalam gerak lambat yang berirama sementara Perempuan Pendoa semakin masuk ke dalam.

“Tidak perlu seperti itu!” ungkap Perempuan Pendoa pelan.

“Tapi, aku mencoba mencari ke dalam diri, di sana ada apa untuk kupersembahkan padamu.” Lelaki Pendosa melepaskan genggaman dan menatap kekasihnya sambil berdiri dengan dua lututnya, si Perempuan Pendoa terduduk di depannya, “Aku tidak tahu, apakah ini akan berharga buatmu. Tidak seberapa, tapi ini adalah ketulusanku akan cintaku padamu!” ungkap si Lelaki Pendosa memberikan selingkar cincin bermata satu, “Ini lah maharku untuk menikahi jiwamu!”

Perempuan Pendoa tersenyum lalu menghambur ke dalam pelukan Lelaki Pendosa. “Jiwaku menari, jiwaku bernyanyi tentang cinta purba yang bergejolak di dalam dada, cinta yang teruntukmu, kekasihku!” ungkap si Lelaki Pendosa pelan dan Perempuan Pendoa mempererat pelukannya, tanpa kata-kata.

Setelah itu, mereka pun menari di bawah cahaya bulan yang semakin terang, dengan iringan debur ombak yang mengalun syahdu, di atas pasir yang merapat karena kehangatan cinta mereka berdua. Kesucian cinta antara Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa, yang bertemu dalam misterinya yang tersendiri: Takdir!

Sumber: Dhian Hari M.D. Atmaja; http://www.dhianhmda.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: