Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen > PERTEMUAN SI PENDO’A DENGAN SANG PEJALAN JAUH

PERTEMUAN SI PENDO’A DENGAN SANG PEJALAN JAUH

Di perbatasan waktu ketika sang Pejalan Jauh ini terus saja menyusuri jalan setapak yang diselubungi semak berduri, dia melihat jalan setapak lain yang menuju ke tempat yang terlihat sejuk, menanjak namun di sana udara berhembus dengan syahdu dan membuat suasana hati menjadi terasa hening. Sang Pejalan Jauh mencoba membelok ke sana, namun masih memegangi tali penunjuk jalan yang selalu dia bawa sedari rumah, agar tidak terlena dalam pengembaraannya. Dia mulai menyusuri jalan yang hening itu, mencari sesuatu yang mungkin dia kenal, atau setidaknya menemui seseorang yang bisa diajak untuk bercakap.

Sang Pejalan Jauh memandang ke sekeliling, mencari pijakan bagi kedua bola matanya yang lelah, “Aku lelaki,” ucapnya pada diri sendiri, “Tidak boleh terlena dan lelah,” ucapnya pada diri sendiri untuk menyemangati.

Di ujung jalan setapak yang hening itu, dia menemukan sebuah surau kecil namun cahaya yang memancar dari dalamnya berpendar dengan indah. Cahaya yang terang benderang, menuntun sang Pejalan Jauh untuk mendekat, dia mendekat sampai tepat berada di pintu tak berdaun. Di sana, dia menemukan seseorang dengan balutan kain putih yang indah memancar, seorang perempuan yang duduk bersimpuh menghadap pada pandangan yang teduh. Si perempuan menyambut lelaki Pejalan Jauh dengan senyuman yang ramah. Namun dia juga tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk, sehingga, sang Pejalan Jauh pun masih berada di muka.

“Aku hanya lah pendosa, yang ingin mencari pemahaman!” ucap si lelaki pejalan jauh dalam senyuman dan kebanggannya sebagai pendosa.

Si empunya rumah hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, “Tidak ada manusia yang sempurna, dosa hanya berada di luar kita, sedangkan tidak ada yang tahu dengan apa yang ada di dalam batinnya.” Ucapnya sambil dengan jemari yang kecil terus merunutkan tasbih.

Sang Pejalan Jauh ini tersenyum lebar dan menggelengkan kepala, dia menatap dengan pandangan haru, jemari perempuan yang terus saja merunutkan tasbih, “Anda adalah seorang pendo’a, menjalani hari dalam tarikan nafas doa yang tidak terpupus dalam kepasrahan diri. Aku ini seorang pejalan jauh, seorang lelaki pendosa yang tidak mengerti dengan kata-kata itu. Aku tidak mengerti, dan kini aku berjalan untuk menyusuri jalan setapak yang terang dan gelap untuk mengerti.”

Si perempuan, yang disebut sebagai pendo’a itu langsung bangkit menuju ke ambang pintu, “Aku pun ingin berjalan jauh, memulai pengembaraan dari Nol sampai tak terbatas,”

Sang Pejalan Jauh menggelengkan kepala, “Telah aku tinggalkan tasbih kayu yang dulu menghitam dan mengkilap untuk menjamur bersama kepekatan. Jalan ini hanya untuk orang-orang yang ragu!” ungkapnya dalam senyuman bangga atas dosa yang telah dia jalani.

Si perempuan, si Pendo’a ini menggelengkan kepala, “Ketika bertasbih, tasbih hanya lah alat yang tidak mutlak harus digunakan, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertasbih. Dan itu adalah pilihannya!”

Sang Pejalan Jauh menundukkan kepala sedalam mungkin, “Aku baru menjalani peperangan antara keinginan dan hati nurani!” ungkapnya menahan tangis yang tertahan oleh kesombongan.

“Menangkanlah nuranimu!” sahut si perempuan Pendo’a dengan cepat.

“Yah, aku biarkan saja mengalir, seperti apa adanya, biarkan saja Dia memutuskan untuk menjadikanku sebagai manusia seperti apa. Setiap patah takdir telah kuserahkan kepada-Nya. Sampai hari ini.”

Sang Pejalan Jauh terdiam di sana. Si Pendo’a pun juga terdiam disana. Si Pendo’a berada di dalam, sedangkan si Pejalan Jauh masih berada di muka, diambang pintu. Sampai sekarang!

Kretek-Bantul, 09 Mei 2010.

Sumber: Dhian Hari M.D. Atmaja; http://www.dhianhmda.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: