Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen > Ombak Memecah-Terpecah

Ombak Memecah-Terpecah

Ia berdiri, mematung menghadap ke selatan di tepian pantai yang tidak bising akan hasrat yang terus bergejolak. Pandangannya jauh ke selatan, menerawang langit yang bersih dan juga biru. Cakarawala yang berdiri di selatan, terus saja berusaha mengundang jiwanya untuk menyusur sampai ke sana. Ia, sang Perempuan Pendoa memandang takjub pada keindahan nan dalam.

“Indah, Mas!” ucapnya yang langsung dibungkam debur ombak Pantai Selatan.

Di atas tebing yang dibuat oleh manusia itu, si Perempuan Pendoa berdiri sambil merajut angannya pada keindahan yang lebih besar. Dua bola matanya menerawang, semakin jauh untuk menggapai cakrawala. Perempuan Pendoa terus berusaha.

“Apa yang kamu lihat?” tanya si Lelaki Pendosa yang telah berdiri di samping sang kekasih yang tengah berdoa.

“Langit biru, ombak yang pecah dan menghambur!” ungkap Perempuan Pendoa sambil memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Ia merasakan semilir angin yang membasuh muka dan mengibarkan rambut yang terjuntai setelah kerudungnya tersibak.

“Ada apa di sana?” tanya si Lelaki Pendosa sambil meraih tangan kekasihnya, lalu mengajaknya melangkah mendekati ombak yang pecah ketika menghantam tumpukan beton yang bergelimpangan.

“Ada Dia kan di sana, Mas, Sayangku?” tanya Perempuan Pendoa dalam bisikan di samping Lelaki Pendosa ketika tangan yang kurus dan lelah meraih tubuh si Perempuan Pendoa.

“Dalam angin basah yang menerpamu, Sayang, Dia ada di sana. Pada angin yang setiap kali kamu rasakan, kau hirup setiap saat, Dia juga ada di sana. Di dalam diri kita sendiri, Dia juga ada, bersemayam seperti kita ini. Dunia ini dan isinya adalah wujud akan keberadaanNya!” ungkap Lelaki Pendosa sambil memeluk erat tubuh kekasihnya.

“Lalu, kenapa kamu musti berjalan jauh? Musti menyusur jalan-jalan gelap? Kenapa harus menjadi seorang pejalan jauh?” tanya si Perempuan Pendoa dan Lelaki Pendosa terkesiap.

Perempuan Pendoa memandangi lelaki yang berdiri di sampingnya. Lelaki yang justru melemparkan pandangan ke tengah laut yang jauh. Ke cakrawala.

Menemukan, Sayangku, untuk menemukan!” jawab si Lelaki Pendosa dengan suara bergetar.

“Bukankah Dia ada di dalam diri kita sendiri?” sahut Perempuan Pendoa dengan cepat yang kembali membuat lelaki di sampingnya hampir terbungkam. “Apa yang sebenarnya ingin kamu temukan, Sayang?”

“Pemahaman,”

“Pengukuhan atas keraguanmu sendiri!” sahut Perempuan Pendoa sebelum Lelaki Pendosa sempat menyelesaikan kalimatnya.

Ombak terus bergerak, menghantam dinding dan pecah. Ombak datang lagi, menghantam lagi dan pecah lagi. Kejadian ini terus saja berulang yang entah telah terjadi selama berapa tahun. Namun, ombak tidak juga berhenti untuk tidak menghantam pantai.

“Ombak memecah pantai, pantai memecah ombak. Kenapa? Itu yang ingin aku temukan dan pahami!” ucap si Lelaki Pendosa dengan suara bergetar sambil menggenggam erat tangan perempuannya yang baru saja berdoa.

Senja di Tamansari, 21 Juni 2010

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: