Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen > LELAKI PEJALAN JAUH YANG TERDIAM

LELAKI PEJALAN JAUH YANG TERDIAM

Si lelaki Pejalan Jauh menelungkupkan diri dalam kenangannya akan perjalanan jauh yang telah dia tempuh. Perjalanan jauh yang dahulu pernah membuatnya menjadi lelaki yang penuh dengan gairah kehidupan dan semangat yang lambat laut mengental menjadi jalan hidup yang tak terbataskan lagi. Dia menyusur mulai dari bagaimana dia menemukan sebuah tikungan jalan, dan dia menemukan pilihan-pilihan di sana.

Saat itu, dia sungguh tidak perduli akan bertemu malaikat pencabut nyawa, atau gendarwa ketika dia mulai menyusuri jalannya. Dia menatap jauh ke depan, menyingkirkan bintang gemintang dari pandangannya. Sementara bintang gemintang terus menaungi tanpa perduli, si lelaki menghiraukan Dia atau tidak. Bintang gemintang terus saja menaungi sampai hari ini ketika dia menikung di sebuah jalan dan bertemu dengan perempuan pendo’a.

Lelaki penjalan jauh mengangkat pandangannya, melihat ke langit dimana bintang gemintang masih menggantung di sana, lalu dia kembali menenggok ke dalam diri. “Apa yang ingin Engkau sampaikan?” tanya si lelaki pejalan jauh dalam gumaman yang samar saja terdengar dan dibawa angin untuk terendam di dalam hening.

Di dalam relung hatinya yang paling dalam, si lelaki pejalan jauh menemukan gundukan dosa yang selama ini dia timbun dari kecil. Dia juga melihat kejahatannya, keiingkarannya, dan dia hanya menggelengkan kepala.

“Ada apa?” tanya si perempuan pendo’a yang terdengar merdu sampai ke relung hati lelaki pejalan jauh.

Dia menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan perempuan yang ada di depannya. Tanpa ada kata-kata, lelaki ini langsung duduk di depan serambi, dipayungi oleh langit yang luas yang dihiasi bintang gemintang.

“Aku akan melipat lutut di sini dan menunggu!” ucap si lelaki pejalan jauh dengan tanpa ekspresi selain mata yang mencuri ke segurat wajah perempuan pendo’a yang duduk di ambang pintu.

“Aku akan menemani!” sahut si perempuan pendo’a dalam senyuman.

“Sampai nanti?” tanya lelaki pejalan jauh menahan nafas dan harapan.

“Sampai anda mendengarkan panggilan untuk kembali berjalan. Saya akan berada di sini menemani, mendengarkan cerita kalau ada, atau sekedar duduk dan bercakap tentang cinta-Nya!” sahut si perempuan pendo’a.

“Anda bersedia?” sahut lelaki pejalan jauh dengan nada riang, sebab ini lah yang sebenarnya dia harapkan.

“Dapat mendengarkan cerita perjalanan dari Anda, membuatku banyak mengerti tentang kehidupan. Selama ini saya selalu berada di surau kecil ini, bergelut dengan kesendirian, sampai akhirnya, ada seorang pengembara yang berkenan untuk singgah.”

Lelaki pejalan jauh menundukkan kepala dengan begitu dalam. “Kehormatan yang tidak terkirakan bisa berada di sini.” Ungkap lelaki pejalan jauh sambil berharap pada perempuan pendo’a di depannya mempersilahkan dirinya masuk ke dalam.

“Kita sama-sama memperoleh kehormatan itu.” Ucap perempuan pendoa dalam senyumannya yang manis.

Sebutir air mata menggantung di kelopak mata lelaki pejalan jauh. Dia merasakan kegembiraan yang selama ini dia harapkan dalam perjalanan. Kebahagiaan yang tidak terkirakan sampai setiap nafas yang dia tarik membawa aroma bunga mawar yang semerbak harumnya sampai ke paru-paru, kemudian meresap ke dalam darah, kemudian menjadi daging di sana. Semua itu memang begitu cepat terjadi, si lelaki pejalan jauh kini meresapi kebahagiaannya di dalam diam.

Studi SDS Fictionbooks, Juni 2010

Sumber: Dhian Hari M.D. Atmaja; http://www.dhianhmda.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: