Beranda > Catatan Perjalanan, Cerpen > Lelaki Pejalan Jauh dan Perempuan Pendoa di Satu Babak Pertama

Lelaki Pejalan Jauh dan Perempuan Pendoa di Satu Babak Pertama

Dua manusia saling berpandangan di dalam kabut hitam yang semakin pekat. Ketika mereka saling bertatap, yang satu curiga dan yang satu terdiam menyimpan kebenaran. Kata-kata yang terucap, telah terlumuri oleh bujuk rayu dan harapan yang tersembunyikan di dalam dada. Pada dalamnya palung hati yang tersembunyi, dia menundukkan kepala memendam rasa yang memaksa untuk untuk muncul ke permukaan dan berlayar.

Ini, waktu dimana sang Pejalan Jauh berdiam diri begitu lama di sebuah surau yang di dalamnya seorang perempuan Pendo’a sedang merunutkan tasbih yang panjang.

“Aku ingin menjadi seorang pejalan jauh, ajarilah aku untuk menyelami kata-katamu.” Ucap si perempuan Pendo’a dalam nada yang sunyi penuh makna.

“Aku tidak pantas,” ucap sang Pejalan Jauh menahan rasa yang semakin memerah di dalam dada.

“Tidak ada yang berhak untuk merasa pantas atau tidak!” sahut si perempuan Pendo’a dengan nada lebut yang langsung membawa angin sejuk untuk bertiup, sementara kabut masih saja berada di sana, membungkus keduanya.

“Aku hanya seorang pengelana yang tidak tahu dengan arahku. Manik-manik bintang penunjuk jalan sengaja tidak aku hiraukan. Aku mencari sesuatu yang sudah ada di depan mata.”

Lelaki Pejalan Jauh menggelengkan kepala dan mulai untuk beranjak. Dia mendengar suara di dalam surau yang dia yakin adalah suara perempuan Pendo’a, “Kenapa tidak masuk, mengeraskan tekat untuk mensucikan diri dan merendahkan sujud?”

Mendengar suara itu, lelaki Pejalan Jauh menahan nafas, mencermati dinding-dinding batinnya yang mulai mengelam.

“Kalau diijinkan,” lelaki Pejalan Jauh mulai mengambil suara.

“Kenapa harus menunggu ijin? Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu mendapatkan ijin-Nya atau tidak?” sahut perempuan Pendo’a dengan cepat.

Lelaki Penjalan Jauh memandangi perempuan yang tersenyum dengan ramah, “Manis,” ungkap sang Pejalan Jauh di dalam hati. “Tatapan mata yang indah,” ungkapnya lagi namun masih hanya di dalam hati yang kemudian terlontar begitu saja.

“Jangan memujiku, Mas!” ungkap perempuan Pendo’a.

Sang Pejalan Jauh merasakan dadanya berdesir, “Aku tidak memuji siapa pun,”

“Karena segala puji hanya untuk Allah, Mas?” sahut perempuan Pendo’a dalam pertanyaan sambil melemparkan senyuman yang lebih manis dari sebelumya.

“Dalam keindahanmu, ada kerendahan diri yang menganggumkan. Kerendahan diri yang lebih mengagumkan dari apa pun!” ungkap sang Pejalan Jauh, “Lautan penuh misteri yang menyimpan doa-doa sakral.”

“Terima kasih,”

“Aku akan melanjutkan perjalananku, semoga kemasyuran hidup selalu menyertaimu.” Ungkap lelaki Pejalan Jauh sambil menahan perasaan berat untuk memulai langkah pertamanya.

“Aku akan mendoakanmu, sekiranya Tuhan berkenan meminjamkan matahariuntuk menerangi perjalanan jauhmu, berkenan menitipkan bintang sebagai lentera pengembaraanmu, dan berkenan menganugrahkan cahaya terang ke dalam hatimu. Hingga perjalananmu sampai pada tujuan sejati-Nya, tanpa harus tersesat meskipun jalanan yang akan ditempuh berliku dan berjuta persimpangan harus dia lewati.” Ucap perempuan Pendo’a dalam irama indah yang semakin membuat lelaki Pejalan Jauh mengurungkan niatnya.

Lelaki Pejalan Jauh memandang ke dalam surau yang terang benderang. Berdiri di muka pintu, merasakan hembusan angin yang sejuk ketika senyuman dan tatapan mata perempuan Pendo’a jatuh kepadanya. Sang Pejalan Jauh, belum beranjak dari sana. Dia masih berdiri termanggu, enggan untuk meninggalkan keindahan yang ada.

12 Mei 2010

Sumber: Dhian Hari M.D. Atmaja; http://www.dhianhmda.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: